KEUNIKAN ALKITAB

I. Keunikan Alkitab

1 : Pendahuluan Keunikan Alkitab

2 : Unik dalam Kesinambungan

3 : Unik dalam Peredarannya & Unik dalam Penerjemahannya

4 : Unik dalam Ketahanannya

5 : Unik dalam Pengajarannya & Unik Pengaruhnya Atas Kepustakaan

II. Bagaimana Alkitab Dipersiapkan?

6 : Penyiapan Alkitab

III. Kanon

7 : Kanon Perjanjian Lama

8 : Kanon Perjanjian Baru

I. Keunikan Alkitab

1 : Pendahuluan Keunikan Alkitab

Ungkapan seperti berikut ini terdengar berulang kali, layaknya piringan yang sudah tergores, “Wah, Anda tidak membaca Alkitab, bukan?” Kadangkala ungkapannya agak lain, “Lho, Alkitab hanyalah sebuah buku yang lain; Anda seharusnya membacanya . . . dsb.” Ada mahasiswa yang merasa bangga karena Alkitabnya terletak pada rak buku di antara buku-bukunya yang lain, mungkin berdebu, tidak pernah dibaca, namun kenyataannya bahwa Alkitab itu ada di sana bersama dengan “buku-buku hebat” lainnya.

Lalu ada juga dosen yang menghina Alkitab di hadapan para mahasiswanya dan menertawakan gagasan untuk membacanya, apa lagi untuk menyimpannya di dalam perpustakaan.

Pertanyaan-pertanyaan dan pengamatan di atas sangat mengganggu pikiran saya ketika, sebagai seorang yang belum percaya, saya berusaha untuk menyanggah keyakinan bahwa Alkitab itu Firman Allah kepada manusia. Pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa semuanya itu hanyalah ungkapan usang berdasarkan pandangan orang, baik pria maupun wanita, yang dipengaruhi oleh kecenderungan, prasangka atau keterbatasan pengetahuan mereka karena kurang membaca.

Alkitab seharusnya ada di tempat teratas pada rak buku, tanpa ada yang mendampinginya. Alkitab itu “unik.” Memang demikian! Gagasan-gagasan yang saya gumuli untuk mendefinisikan Alkitab terangkum dengan satu kata “unik.”

Tentu dalam pikiran Webster terlintas gagasan “Kitab di atas segala kitab” itu ketika ia memformulasikan definisi kata “unique”: “1. One and only; single; sole. 2. different from all others; having no like or equal.” (1. Hanya satu-satunya; sendiri; tunggal. 2. berbeda dari semua yang lain; tidak ada yang sama atau setara).

Profesor M. Montiero-Williams, mantan dosen Sansekerta di Boden, yang menggunakan masa 42 tahun untuk mempelajari kitab-kitab Timur, ketika membandingkan semuanya itu dengan Alkitab berkata:

“Susunlah kitab-kitab itu, jika Saudara mau, pada sebelah kiri di atas meja belajar Saudara; tetapi letakkan Alkitab Saudara di sebelah kanan – sendiri, tanpa didampingi yang lain – dengan jarak yang lebar di antara keduanya. Karena, . . . ada jurang di antara Alkitab dengan yang disebut sebagai kitab-kitab suci dari Timur itu, dan jurang itu sungguh-sungguh memisahkan satu dari yang lain secara mutlak, tanpa dapat dipertemukan, dan untuk selamanya . . . suatu jurang pemisah yang demikian luas dan dalam sehingga tidak dapat dijembatani oleh ilmu pengetahuan agamawi yang manapun.”

2 : Unik dalam Kesinambungan

Ditulis dalam kurun waktu lebih dari 1500 tahun.

Penulis pertama kitab-kitab Perjanjian Lama adalah Musa yang hidup pada sekitar tahun 1500 S.M. Sedangkan Yohanes adalah penulis terakhir bagian dari Kitab Perjanjian Baru (Injil Yohanes, surat-surat kiriman Yohanes dan surat Wahyu).

Ditulis dalam 40 generasi lebih.

Jika satu generasi diperhitungkan 40 tahun, maka paling kurang ada 40 generasi dalam kurun waktu lebih dari 1500 tahun itu.

Ditulis oleh lebih daripada 40 penulis dari setiap tataran kehidupan termasuk raja-raja, petani kecil, filsuf, nelayan, penyair, negarawan, cendekiawan, dsb.:

Musa adalah seorang tokoh politik yang terlatih di pelbagai universitas di Mesir.
Petrus adalah seorang nelayan.
Amos adalah seorang gembala.
Yosua memainkan peranan sebagai seorang jenderal militer.
Nehemia adalah pembawa cawan minuman raja dalam masa pembuangan di Persia.
Daniel adalah seorang perdana menteri.
Lukas penulis Injil dan kitab Kisah Para Rasul itu adalah seorang dokter.
Salomo penulis yang sangat berhikmat itu adalah seorang raja.
Matius penulis Injil itu adalah seorang pemungut cukai sehingga gaya tulisannya demikian rinci.
Paulus adalah seorang anggota Farisi. Demikianlah menyebutkan beberapa penulis sebagai contoh.

Ditulis di tempat yang berbeda-beda:

Bagian-bagian Alkitab itu tidak ditulis di satu tempat yang sama. Musa menulis sementara ia berada di padang belantara. Yeremia menulis kitabnya ketika ia berada dalam ruang tahanan. Daniel menulis kitabnya di dua tempat, di lereng perbukitan dan di istana. Paulus menulis surat-suratnya di balik dinding penjara, sementara lukas menulis Injil dan Kisah Para Rasul ketika sedang dalam perjalanan. Yohanes menulis Injil di Efesus dan surat-surat kirimannya serta kitab Wahyu ketika dalam pembuangannya di pulau Patmos. Penulis-penulis lainnya ada di tengah kancah peperangan.

Ditulis pada masa yang berbeda:

Masa penulisan tiap kitab berbeda satu dari lainnya. Daud menulis pada masa peperangan. Sedangkan Salomo menulis dalam masa damai.

Ditulis dalam suasana yang berbeda:

Kitab-kitab itupun ditulis dalam suasana yang berbeda-beda. Ada penulis yang menggoreskan penanya ketika ia ada di puncak sukacita yang dialaminya. Yang lain menulis dalam suasana yang penuh duka dan keputusasaan.

Ditulis di tiga benua:

Wilayah penulisan kitab-kitab yang terdapat dalam Alkitab itu meliputi Asia, Afrika dan Eropah.

Ditulis dalam tiga bahasa:

Ibrani adalah bahasa yang digunakan pada masa Perjanjian Lama. Dalam II Raja-raja 18:26-28 disebut sebagai “bahasa Yehuda” sementara dalam Yesaya 19:18 disebut “bahasa Kanaan.”

Bahasa Aram adalah “lingua franca” (bahasa pengantar) di kawasan Timur Dekat sampai dengan masa pemerintahan Iskandar Agung (abad ke-6 S.M. sampai dengan abad ke-4 M.) sehingga beberapa bagian kitab Daniel yang mengandung pesan yang ditujukan kepada bangsa non-Yahudi ditulis dalam bahasa Aram.

Bahasa Yunani adalah bahasa Perjanjian Baru, yang merupakan bahasa internasional (dipakai dalam wilayah dengan batas-batas Spanyol sampai dengan India Barat dan Jerman Selatan sampai dengan Afrika Utara) pada masa Yesus Kristus melawat dan tinggal di tengah dunia.

Memuat ratusan topik kontroversial.

Topik kontroversial adalah topik yang akan menimbulkan pelbagai pendapat yang menentangnya ketika topik itu disebut atau dibicarakan. Para penulis kitab-kitab dalam Alkitab berbicara tentang ratusan topik kontroversial yang disertai keselarasan dan kesinambungan dari Kejadian sampai dengan Wahyu. Ada satu kisah yang dibeberkan: “Penebusan manusia oleh Allah.”

Geisler dan Nix mengungkapkannya sebagai berikut: “Sorga yang Hilang dalam Kejadian menjadi Sorga yang Ditemukan Kembali dalam Wahyu. Sementara gerbang menuju pohon kehidupan itu ditutup dalam kitab Kejadian, gerbang itu dibuka kembali untuk selamanya dalam kitab Wahyu.”

F. F. Bruce menuliskan pengamatannya: “Bagian tubuh manusia yang manapun dapat diuraikan dengan tepat hanya dalam hubungan dengan seluruh tubuh. Dan bagian Alkitab yang manapun dapat dijelaskan dengan tepat dalam hubungan dengan Alkitab secara keseluruhan.”

Bruce menyimpulkan: “Pada pandangan pertama, Alkitab nampak sebagai kumpulan sastera – terutama kesusasteraan Yahudi. Jika kita meneliti lingkungan demi lingkungan di mana pelbagai dokumen Alkitab itu ditulis, kita temukan bahwa dokumen-dokumen itu ditulis dalam masa yang berbeda-beda meliputi kurun waktu hampir 1400 tahun. Para penulis itu berkarya di pelbagai negeri, dari Itali di sebelah barat sampai dengan Mesopotamia dan mungkin Persia di sebelah timur. Para penulis itu sendiri adalah kelompok yang memiliki kepelbagaian, mereka tidak hanya saling terpisah ratusan tahun dan ratusan mil, namun mereka menjadi bagian dari tataran kehidupan yang sangat berbeda. Dalam hubungan dengan pangkat, kita memiliki raja, gembala, tentera, pembuat undang-undang, nelayan, negarawan, bangsawan, imam dan nabi, ulama Yahudi pembuat tenda dan tabib non-Yahudi, belum lagi tokoh-tokoh lain yang tidak kita kenal selain karya tulis yang mereka tinggalkan bagi kita itu. Karya tulis mereka sendiri tergolong pada jenis kesusasteraan yang sangat bervariasi. Jenis tersebut meliputi sejarah, hukum (sipil, pidana, etika, ibadah, kebersihan), sastera keagamaan, uraian pengajaran, prosa lirik, perumpamaan dan kiasan, biografi, surat-menyurat pribadi, riwayat hidup dan catatan pribadi, selain jenis khusus Alkitabiah yang disebut nubuat dan wahyu.”

“Karena untuk semua orang yang memandang Alkitab tidak semata-mata sebagai suatu antologi; ada kesatuan yang mengikat seluruh bagian Alkitab itu menjadi satu. Suatu antologi dikumpulkan oleh seorang antolog, tetapi tidak ada seorang antolog pun yang telah mengumpulkan kitab-kitab itu menjadi Alkitab.”

Rangkuman kesinambungan Alkitab – perbandingan dengan Kitab-kitab Besar Dunia Barat.

Seorang yang mewakili Kitab-kitab Besar Dunia Barat datang ke rumah saya dalam rangka merekrut salesman untuk menjajakan seri buku yang mereka produksi. Ia membuka suatu bagan tentang seri Kitab-kitab Besar Dunia Barat. Ia pergunakan waktu lima menit untuk berbicara kepada kami tentang seri Kitab-kitab Besar Dunia Barat, dan kami menggunakan waktu satu setengah jam untuk memberitahukan kepadanya tentang Kitab Terbesar itu.

Saya menantangnya untuk memilih 10 saja di antara para penulis, semuanya dari lapisan masyarakat yang sama, satu generasi, satu tempat, satu masa, satu suasana, satu benua, satu bahasa dan hanya satu topik kontroversial (Alkitab berbicara tentang ratusan topik kontroversial yang memiliki keselarasan dan kecocokan).

Lalu saya bertanya kepadanya: “Apakah para penulis itu sefaham?” Ia berhenti sejenak lalu menjawab, “Tidak!” “Apa yang Saudara temukan?” saya menanyakan dengan nada tajam. Ia segera menjawab, “Hal yang campur aduk.”

Dua hari kemudian ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus Kristus (yang menjadi tema Alkitab).

Mengapa terjadi seperti itu? Sederhana sekali! Siapa saja yang dengan tulus mencari kebenaran akan sekurang-kurangnya mempertimbangkan sebuah kitab yang memiliki persyaratan unik di atas.

3 : Unik dalam Peredarannya & Unik dalam Penerjemahannya

A. UNIK DALAM PEREDARANNYA

Pada dasarnya saya mengutip angka-angka yang disiapkan oleh pelbagai Lembaga Alkitab saja. Angka-angka ini tersedia dalam Encyclopaedia Britannica, Encyclopaedia Americana, One Thousand Wonderful Things About the Bible (Pickering), All About the Bible (Collett), Protestant Christian Evidences (B. Ramm) dan A General Introduction to the Bible (Geisler and Nix).

Penerbitan Alkitab

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : s.d. th. 1804 (Britain Bible Society)
Jumlah Alkitab : 409,000,000
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1928 (Gideons of America)
Jumlah Alkitab : 965,000
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : (National Bible Society – Scotland)
Jumlah Alkitab : 88,070,068
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : (Dublin Bible Society)
Jumlah Alkitab : 6,987,961
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : (German Bible Society, 1927)
Jumlah Alkitab : 900,000
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1930
Jumlah Alkitab : 12,000,000
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : s.d. th. 1932
Jumlah Alkitab : 1,330,213,815
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1947
Jumlah Alkitab : 14,108,436
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1951
Jumlah Alkitab : 952,666
Jumlah Perjanjian Baru : 1,913,314
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : 13,135,965

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1955
Jumlah Alkitab : 25,393,161
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : 1950 – 1960 (setiap tahun)
Jumlah Alkitab : 3,037,898
Jumlah Perjanjian Baru : 3,223,986
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : 18,417,989

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1963
Jumlah Alkitab : 54,123,820
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1964 (American Bible Society)
Jumlah Alkitab : 1,665,559
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : Lain-lain
Jumlah Alkitab : 69,852,337
Jumlah Perjanjian Baru : 2,620,248
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : 39,856,207

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1965
Jumlah Alkitab : 76,953,369
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Penerbit-Versi Terjemahan / Tahun : dalam th. 1966
Jumlah Alkitab : 87,398,961
Jumlah Perjanjian Baru : —
Jumlah Bagian Alkitab (kitab demi kitab, dsb.) : —

Alkitab telah dibaca oleh lebih banyak orang dan diterbitkan dalam lebih banyak bahasa dibandingkan dengan kitab-kitab lain. Lebih banyak jumlah eksemplar Alkitab secara lengkap, kitab demi kitab dan bagian-bagian tertentu yang telah dicetak dibandingkan dengan kitab lain yang manapun sepanjang sejarah. Ada orang-orang yang akan mendebatnya dengan mengatakan bahwa dalam bulan atau tahun yang dikhususkan ada kitab tertentu yang terjual lebih banyak. Tetapi, secara keseluruhan, secara mutlak tidak ada kitab yang mencapai atau mulai menyamai peredaran Kitab Suci. Kitab utama yang dicetak untuk pertama kali adalah Vulgata dalam bahasa Latin. Kitab itu dicetak di percetakan Gutenberg.

Hy Pickering mengatakan bahwa sekitar 30 tahun yang lalu, agar Lembaga Alkitab British dan Manca Negara dapat memenuhi tuntutan kebutuhan akan Alkitab, maka lembaga tersebut harus menerbitkan “satu eksemplar setiap tiga detik dengan bekerja siang malam; 22 eksemplar setiap menit dengan bekerja siang malam; 1,369 eksemplar setiap jam dengan bekerja siang malam; 32,876 eksemplar setiap hari dalam satu tahun itu. Dan sungguh-sungguh menarik untuk diketahui bahwa jumlah Alkitab yang menakjubkan ini disebarkan ke pelbagai bagian dunia dalam 4,583 kotak dengan berat keseluruhan 490 ton

The Cambridge History of the Bible mencatat: “Tidak ada kitab lain yang tercatat telah mendekati peredaran seperti peredaran Alkitab yang demikian mantap.”

Memang benar komentar para kritikus yang berbunyi: “Hal ini tidak membuktikan bahwa Alkitab itu Firman Allah!” Namun fakta ini menunjukkan bahwa Alkitab itu unik.

B. UNIK DALAM PENERJEMAHANNYA

Alkitab adalah salah satu dari kitab-kitab utama yang diterjemahkan ke dalam bahasa lain (Septuaginta: terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani yang dikerjakan pada tahun 250 S.M.)

Alkitab telah diterjemahkan dan diterjemahkan lagi serta diterjemahkan dengan ungkapan-ungkapan yang secara gramatikal tidak terikat kepada teks aslinya, tidak ada kitab lain yang telah mendapat perlakuan seperti itu.

Encyclopaedia Britannica mengatakan bahwa “pada tahun 1966 seluruh Alkitab telah ada . . . dalam 240 bahasa dan dialek . . . salah satu kitab atau lebih yang menjadi bagian Alkitab itu diterbitkan dalam 739 bahasa lain, sehingga jumlah penerbitannya ada dalam 1,280 bahasa.”

Ada 3,000 penerjemah Alkitab yang menerjemahkan Kitab Suci pada kurun waktu 1950-1960.

Berdasarkan fakta yang ada, Alkitab itu unik (“tidak ada duanya”) dalam hubungan dengan penerjemahannya

4 : Unik dalam Ketahanannya

A. Bertahan terhadap masa.

Sebagai karya yang ditulis pada bahan yang dapat hancur, yang mengalami proses penyalinan berulang kali selama ratusan tahun sebelum mesin cetak dibuat oleh manusia, Alkitab tidak kehilangan gayanya, ketepatannya dan keberadaannya. Alkitab, jika dibandingkan dengan karya tulis kuno lainnya, mempunyai lebih banyak naskah yang berfungsi sebagai bukti daripada 10 karya tulis klasik lainnya dijadikan satu.

John Warwick Montgomery mengatakan bahwa “untuk menjadi orang yang bersikap skeptis terhadap teks kitab-kitab Perjanjian Baru yang telah dihasilkan berdasarkan temuan naskah-naskah kuno, berarti mengizinkan semua peninggalan klasik beralih ke dalam kegelapan, karena tidak ada dokumen kuno lain dari masa kuno yang mendapat pembuktian bibliografis seperti Perjanjian Baru.

Bernard Ramm memberikan ulasan tentang ketepatan dan jumlah naskah-naskah alkitabiah:
“Orang-orang Yahudi memeliharanya demikian berbeda dibandingkan dengan pemeliharaan naskah-naskah lain. Dengan massora (parva, magna dan finalis) mereka mengadakan penghitungan atas setiap huruf, sukukata, kata dan paragraf. Mereka mempunyai kelompok khusus pria di dalam budaya mereka yang mempunyai tugas satu-satunya memelihara dan menyalin dokumen-dokumen yang secara praktis dengan ketepatan yang sempurna – para ahli kitab, ahli hukum, massoret (penulis yang menyimpan catatan-catatan penelitian dan penjelasan tentang teks Ibrani Perjanjian Lama yang disebut Massora, red.). Siapakah yang pernah menghitung huruf-huruf, sukukata dan kata-kata Plato atau Aristoteles? Cicero atau Seneca?”

John Lea dalam bukunya berjudul The Greatest Book in the World (Kitab Teragung di Dunia) membandingkan Alkitab dengan karya-karya Shakespeare:
“Pada suatu artikel yang termuat dalam North American Review, seorang penulis mengadakan suatu perbandingan yang menarik antara karya-karya Shakespeare dengan Kitab Suci, Perbandingan ini menunjukkan bahwa kepada naskah-naskah alkitabiah harus diberikan perhatian yang lebih besar daripada kepada tulisan-tulisan lain. Bahkan ketika ada kesempatan yang lebih besar untuk memelihara teks yang benar dengan cara menyimpan naskah-naskah cetak daripada ketika semua naskah masih harus ditulis tangan. Ia berkata:
“’Nampaknya ganjil bahwa naskah Shakespeare, yang ada selama kurang dari dua ratus delapan tahun, demikian tidak pasti dan rusak dibandingkan dengan naskah-naskah Perjanjian Baru, yang sekarang berusia lebih dari delapan belas abad, yang selama hampir lima belas abad ada hanya dalam bentuk naskah. . . . Mungkin dengan perkecualian dua belas atau dua puluh saja, sejauh ini teks setiap ayat Perjanjian Baru dapat dikatakan tidak diperdebatkan lagi berdasarkan persetujuan umum para cendekiawan, sehingga perbedaan yang ada tentang suatu bagian dari teks berhubungan dengan penafsiran kata bukan berhubungan dengan keraguan terhadap kata-kata itu sendiri. Namun, pada setiap bagian dari ketigapuluh tujuh drama karya Shakespeare itu mungkin terdapat ratusan variasi teks yang masih tetap diperdebatkan, sebagian besar di antaranya sangat mempengaruhi arti kalimat-kalimat yang ada di dalamnya.’ ”

B. Bertahan terhadap usaha penghancuran

Alkitab telah bertahan dalam menghadapi serangan-serangan musuhnya yang demikian ganas, keganasan yang belum pernah dialami oleh buku lain. Banyak orang yang telah berusaha untuk membakarnya, melarang pengedarannya, dan “menyatakannya sebagai kejahatan dari sejak zaman kekaisaran Romawi sampai dengan pemerintahan negara-negara moderen yang dikuasai oleh orang-orang Komunis.”

Sidney Collett dalam bukunya berjudul All About the Bible (Apa Alkitab Itu Sebenarnya) mengatakan, “Voltaire, orang kafir berkebangsaan Perancis terkenal yang meninggal pada tahun 1778 itu, pernah mengatakan bahwa dalam masa seratus tahun dari sejak masa hidupnya, Kekristenan akan tersapu habis dan berubah menjadi sekadar sejarah. Tetapi apakah yang telah terjadi? Voltaire telah berubah, kini hanya sebagai sejarah, sementara peredaran Alkitab terus bertambah luas sampai hampir ke seluruh bagian dunia ini, dengan membawa berkat ke tempat-tempat yang menjadi tujuan Alkitab itu berkelana. Misalnya, Katedral Inggris di Zanzibar dibangun di atas tanah yang semula adalah tempat Pasar Perbudakan Kuno, dan Meja Perjamuan ada di tempat tiang untuk mengikat budak yang harus didera! Dunia penuh dengan hal-hal seperti itu. . . . Seperti yang dengan tepat dikatakan oleh seseorang, ‘Mungkin juga usaha untuk menghentikan peredaran Alkitab itu ibarat kita menempelkan pundak kita pada roda matahari yang menyala-nyala dan berusaha untuk menghentikan peredarannya yang membara itu.’ ”

Tentang kesombongan Voltaire atas penghapusan Kekristenan dan Alkitab dalam masa 100 tahun, Geisler dan Nix menunjukkan bahwa “hanya dalam waktu lima puluh tahun sesudah kematiannya Lembaga Alkitab Jenewa mempergunakan percetakan dan rumahnya untuk menerbitkan bertumpuk-tumpuk Alkitab.” SINDIRAN HISTORIS YANG LUAR BIASA!

Dalam tahun 303 M., Diocletian mengeluarkan ketetapan (Cambridge History of the Bible, Cambridge University Press, 1963) untuk melarang orang-orang Kristen melaksanakan ibadah mereka serta menghancurkan Kitab Suci mereka: “. . . surat kerajaan diumumkan di mana-mana, yang isinya adalah memerintahkan agar gedung-gedung gereja dihancurkan sama sekali dan Kitab Suci dibakar, serta mencanangkan bahwa mereka yang mempunyai kedudukan tinggi akan kehilangan semua hak kewarganegaraann mereka, sementara itu mereka yang tinggal di rumah, apabila mereka bersikeras untuk mempertahankan pengakuan iman Kristen mereka, maka mereka tidak akan diberi kebebasan lagi.”

Ironi historik surat perintah untuk menghancurkan Alkitab tersebut, menurut catatan Eusebius, adalah bahwa surat perintah yang dikeluarkan 25 tahun kemudian oleh Constantine, kaisar penerus Diocletian, menyatakan agar 50 eksemplar Kitab Suci disiapkan dengan biaya dari pemerintah.

Alkitab itu unik dalam ketahanannya. Hal ini tidak membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Namun fakta ini membuktikan bahwa Alkitab saja yang mampu bertahan di antara kitab-kitab lain. Siapapun yang sedang mencari kebenaran harus mempertimbangkan sebuah kitab yang mempunyai syarat-syarat unik di atas.

c. Bertahan terhadap kritikan

H. L. Hastings, sebagaimana dikutip oleh John W. Lea, memberikan ilustrasi demikian kuat tentang cara unik Alkitab untuk bertahan terhadap pelbagai serangan yang dilontarkan oleh kekafiran serta ketidakpercayaan:
“Orang-orang kafir selama seribu delapan ratus tahun telah berusaha untuk membantah kebenaran dan menggulingkan kitab ini, dan saat ini kitab ini masih berdiri tegak seperti batu karang. Peredarannya bertambah luas, dan saat ini lebih disayang dan lebih dihargai serta dibaca oleh lebih banyak orang dibanding pada masa-masa yang silam. Orang-orang kafir, dengan segala macam serangan mereka, telah menciptakan kesan tentang kitab ini seperti usaha seseorang yang berusaha menghancurkan Piramid-piramid di Mesir itu dengan sebuah palu untuk paku payung. Ketika raja Perancis menyarankan rencana penganiayaan terhadap orang-orang Kristen yang ada di kawasan kerajaannya, seorang negarawan dan pejuang tua berkata kepadanya, ‘Baginda, Gereja Allah adalah ibarat landasan besi yang telah menyebabkan banyak palu godam menjadi usang.’ Oleh karena itu, palu godam orang-orang kafir tak henti-hentinya menghantam kitab ini selama berabad-abad, namun ketika palu godam itu menjadi usang, landasan besi itu sendiri masih tetap berdiri tegar di tempatnya. Jika kitab ini bukan kitab dari Allah, maka manusia telah berhasil menghancurkannya sejak lama. Para maharaja dan paus, para raja dan imam-imam, para pangeran dan para penguasa telah berusaha sekeras tenaga untuk menghancurkannya; mereka telah sirna dan kitab itu masih tetap bugar.”

Bernard Ramm menambahkan: “Lebih dari seribu kali, lonceng kematian Alkitab telah dibunyikan, arak-arakan untuk pemakaman telah dibentuk, prasasti telah terukir pada batu nisan dan pengantar penguburan jenazah telah dibacakan. Namun, bagaimana pun juga jenazahnya tidak pernah terletak di dalam peti mati.

“Tidak ada kitab lain mengalami pukulan, pemotongan, penyaringan, penelitian dan penghinaan seperti Alkitab. Kitab apakah yang berkaitan dengan filsafat atau agama atau psikologi atau sastera kuno maupun moderen yang pernah mengalami serangan sehebat serangan terhadap Alkitab? dengan racun dan ketidakpercayaan seperti itu? dengan ketelitian dan pengetahuan yang demikian luas? atas setiap bab, kalimat dan prinsip?

“Alkitab masih disayang oleh jutaan orang, dibaca oleh jutaan orang, dan diselidiki oleh jutaan orang.”

Ungkapan yang biasa terdengar adalah “hasil-hasil yang pasti dari higher criticism [I/] (penelitian yang dilakukan atas Alkitab dengan tujuan mengokohkan fakta-fakta yang berhubungan dengan kepengarangan, tahun penulisan, juga penyediaan dasar untuk usaha penafsiran yang tepat),” namun sekarang para peneliti yang melakukan usaha tersebut telah berguguran di tepi jalur sejarah. Ambillah sebagai contoh, “Hipotesa Dokumenter.” Salah satu alasan dasar untuk pengembangan cara penelitiannya, selain pemakaian nama yang berbeda untuk menyebut Allah dalam kitab Kejadian, adalah bahwa Pentateukh (sebutan untuk kelima kitab pertama Perjanjian Lama) tidak mungkin telah ditulis oleh Musa seorang diri karena “hasil-hasil yang pasti dari[I] higher criticism” membuktikan bahwa tulis-menulis belum dikenal pada zaman Musa atau, andaikan ada pada zaman itu, kegiatan tulis-menulis itu dipakai sangat jarang. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Pentateukh itu adalah hasil karya tulis orang yang hidup jauh sesudah zaman Musa. Pikiran para peneliti itu terus berkembang: Penulis-penulis J, E, P, D adalah yang menyusun naskah-naskah itu menjadi satu. Para kritikus itu bahkan sampai pada pemikiran demikian jauh sehingga mereka membagi-bagi satu ayat kepada tiga pengarang. Mereka membentuk pelbagai struktur penelitian yang sangat besar. Untuk mempelajari lebih dalam Hipotesa Dokumenter, Saudara dapat membacanya dalam More EvidenceThat Demands a Verdict (terbitan Here’s Life Publishers, Inc.)

Namun kemudian, beberapa orang peneliti menemukan “batu peninggalan hitam.” Prasasti yang tertera padanya berbentuk seperti mata kapak, memuat hukum Hammurabi yang demikian rinci. Apakah prasasti ini peninggalan dari zaman sesudah Musa? Tidak! Batu prasasti itu dari zaman pra-Musa; tidak hanya demikian, tulisan itu mendahului karya tulis Musa paling kurang tiga abad. Yang menakjubkan adalah, batu prasasti itu diperkirakan berusia lebih tua daripada Musa, yang diduga sebagai orang primitif yang belum mempunyai abjad.

Sindiran historis yang luar biasa! Hipotesa Dokumenter masih bertahan kuat, namun banyak di antara dasar aslinya (“hasil-hasil pasti higher criticism”) telah terkikis dan terbukti salah.

“Hasil-hasil pasti higher criticism” mengatakan bahwa pada zaman Abraham tidak ada bangsa yang disebut Het, karena tidak ada catatan tentang bangsa itu selain dalam Perjanjian Lama. Tentu itu hanya sebuah mitos. Wah, nampaknya salah lagi. Sebagai hasil penemuan usaha arkeologis, sekarang tersedia ratusan referensi yang secara serempak menyatakan bahwa kebudayaan Het dikenal keberadaannya selama 1200 tahun. Keterangan lebih lanjut dapat dibaca dalam buku More Evidence That Demands a Verdict oleh pengarang yang sama (Josh McDowell).

Earl Radmacher, presiden Western Conservative Baptist Seminary, mengutip Nelson Glueck (diucapkan Glek), yang pernah menjadi presiden Jewish Theological Seminary pada Hebrew Union College di Cincinnati dan salah seorang dari tiga arkeolog terbesar, ketika berkata: “Saya mendengarkannya (Glueck) ketika ia berada di Temple Emmanuel di Dallas, dan mukanya berubah agak kemerah-merahan sambil berkata, ‘Saya telah dituduh bahwa saya mengajarkan pewahyuan Kitab Suci secara lisan dan mutlak. Saya ingin agar tidak ada orang yang tidak memahami bahwa saya tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Apa yang pernah saya katakan adalah bahwa dalam semua penelitian arkeologis yang saya lakukan saya tidak pernah menemukan bahwa satupun dari benda-benda peninggalan purbakala itu yang bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Firman Allah.’ ”

Robert Dick Wilson, orang yang dapat berbicara dengan lancar dalam lebih dari 45 bahasa dan logat tertentu, sesudah mengadakan penelitian atas Perjanjian Lama sepanjang hidupnya, menyimpulkan:
“Dapat saya tambahkan bahwa sebagai hasil penelitian saya selama empat puluh lima tahun atas Alkitab telah senantiasa menuntun saya kepada iman yang lebih kokoh tentang kenyataan bahwa di dalam Perjanjian Lama kita miliki catatan historis yang benar tentang sejarah bangsa Israel.”

Alkitab itu unik dalam menghadapi kritikan-kritikan yang dilontarkan kepadanya. Tidak dijumpai adanya kitab seperti itu di dalam semua khazanah sastera. Orang yang sedang mencari kebenaran pasti akan mempertimbangkan sebuah kitab yang memiliki persyaratan-persyaratan di atas.

5 : Unik dalam Pengajarannya & Unik Pengaruhnya Atas Kepustakaan

A. Unik dalam Pengajarannya

Nubuat :

Wilbur Smith, yang memiliki perpustakaan pribadi dengan kapasitas 25 ribu jilid buku, menyimpulkan bahwa “apapun yang dipikirkan oleh seseorang tentang otoritas dan pesan yang disajikan di dalam kitab yang kita namai Alkitab, ada persetujuan yang diterima di seluruh muka bumi bahwa dalam banyak hal, tidak hanya dalam satu hal, Alkitab adalah sebuah jilid kitab yang paling menarik yang pernah dihasilkan umat manusia dalam kurun waktu masa perkembangan karya sastera sekitar lima ribu tahun.

“Ini adalah satu-satunya jilid kitab yang pernah dihasilkan manusia, atau sekelompok manusia, yang di dalamnya ditemukan sekumpulan nubuat yang sangat besar yang berhubungan dengan bangsa-bangsa secara individu, tentang Israel, tentang semua bangsa di dunia, tentang kota-kota tertentu, dan tentang kedatangan Pribadi yang akan menjadi Mesias. Dunia kuno mempunyai banyak alat untuk menetapkan masa depan, yang dikenal sebagai ilmu ramal, namun tidak terdapat di dalam keseluruhan literatur Yunani dan Latin, walaupun mereka menggunakan kata nabi dan nubuat, kita tidak dapat menemukan nubuat khusus yang secara nyata berhubungan dengan peristiwa besar bersejarah yang akan terjadi dengan tenggang waktu lama, ataupun nubuatan tentang seorang Juruselamat yang akan bangkit di tengah umat manusia. . . .”

“Agama Islam tidak dapat menunjuk kepada suatu nubuat tentang kedatangan Muhammad yang diungkapkan ratusan tahun sebelum kelahirannya. Juga tidak ada pendiri agama apapun di negeri ini secara tepat mengidentifikasi teks kuno yang secara khusus meramalkan kehadiran mereka.”

Sejarah :

Dari I Samuel sampai dengan II Tawarikh ditemukan sejarah bangsa Israel, yang meliputi kurun waktu sekitar lima abad. The Cambridge Ancient History, (Jilid 1, h. 222) mengatakan: “Memang bangsa Israel menyatakan kebolehannya dalam hubungan dengan penyusunan sejarah,dan Perjanjian Lama memuat dokumen penulisan sejarah tertua.”

Ahli arkheologi terkenal , Profesor Albright,mengawali karya tulis klasiknya yang berjudul The Biblical Period (Periode Waktu Alkitab) sebagai berikut:
“Tradisi bangsa Ibrani mengungguli tradisi bangsa-bangsa lain dalam hal memberikan gambaran yang jelas tentang asal-usul suku dan keluarga yang menjadi bagiannya. Di Mesir dan Babilonia, di Asyur dan Phoenicia, di Yunani dan Roma, kita tidak akan dapat menemukan sesuatu yang sebanding dengan itu. Tidak ada hal seperti tradisi itu di kalangan bangsa-bangsa Jermania (bangsa-bangsa yang tersebar di daratan Eropa). Demikian juga bangsa India maupun China tidak dapat menghasilkan sesuatu yang serupa itu, karena kenangan historis tertua mereka berupa peninggalan-peninggalan tradisi keturunan raja-raja yang sudah tidak terpelihara kebenarannya, tanpa ada jejak tentang gembala atau petani kecil yang melatar belakangi anak dewa atau raja yang menjadi awal dari catatan tentang mereka. Demikian juga di dalam tulisan-tulisan tertua sejarah bangsa India (Purana) atau di dalam sejarah Yunani tertua tidak ditemukan tanda tentang kenyataan bahwa kedua bangsa itu –Indo-Aryan dan Yunani– adalah pada mulanya bangsa pengembara yang kemudian beralih ke negeri mereka itu dari utara. Bangsa Asyur, secara pasti, hanya ingat dengan samar-samar bahwa penguasa-penguasa awal mereka, dengan nama-nama yang masih tetap mereka ingat namun tanpa dapat menyebutkan secara rinci perbuatan mereka, adalah orang-orang yang tinggal di tenda-tenda, namun dari mana asal mereka sudah lama terlupakan.

“Daftar Bangsa-bangsa” dalam Kejadian 10 adalah suatu catatan sejarah dengan ketepatan yang menakjubkan. Menurut Albright:“Catatan ini secara mutlak sangat menonjol di dalam literatur kuno tanpa ada yang menyamai sedikit pun bahkan di antara orang-orang Yunani. . . . ‘Daftar Bangsa-bangsa’ tetap merupakan dokumen yang sangat tepat. . . . (Itu) menunjukkan pemahaman yang sangat moderen tentang situasi etnik dan linguistik di dunia moderen, walaupun demikian rumit, sehingga para cendekiawan gagal untuk memperoleh kesan yang menakjubkan tentang pengetahuan sang penulis dalam hubungan dengan topik tersebut.”

Pribadi-pribadi

Lewis S. Chafer, pendiri dan mantan presiden Dallas Theological Seminary, mengungkapkan sebagai berikut: “Alkitab bukanlah sejenis kitab yang ditulis manusia seandainya ia dapat menulisnya, atau yang dapat ditulisnya seandainya ia mau menulisnya.” Alkitab menangani dosa tokoh-tokoh yang termuat di dalamnya dengan sangat terbuka. Bacalah buku-buku biografi modern, dan perhatikan bagaimana mereka berusaha menutupi,melupakan atau mengabaikan bagian yang kelam dari kehidupan manusia. Ambillah contoh pakar-pakar sastra besar, pada umumnya mereka dilukiskan sebagai orang-orang suci. Alkitab tidak melakukan hal seperti itu. Alkitab mengungkapkan segala sesuatu sesuai dengan apa adanya: Dosa-dosa bangsa Israel dikecam – Ulangan 9:24.
Dosa-dosa cikal-bakal bangsa Israel – Kejadian 12:11-13; 49:5-7
Para penginjil melukiskan kesalahan-kesalahan mereka sendiri dan kesalahan-kesalahan para rasul – Matius 8:10-26; 26:31-56; Markus 6:52; 8:18; Lukas 8:24-25; 9:40-45;Yohanes 10:6;16:32.
Kekacauan di gereja – 1 Korintus 1:11; 15:12; 2 Korintus 2:4; dsb.
Banyak orang akan berkata, “Mengapa mereka harus menuliskan dalam pasal itu tentang Daud dan Betseba?” Memang, Alkitab mempunyai kebiasaan untuk bertutur sesuai dengan apa adanya.

B. Unik Pengaruhnya Atas Kepustakaan di Sekitarnya

Cleland B. McAfee menulis di dalam The Greatest English Classic (Buku Klasik Inggris Terbesar): “Jika setiap Alkitab di dalam kota besar dihancurkan, semua bagian penting Kitab itu dapat ditulis kembali dengan menggunakan kutipan-kutipan yang tersedia pada rak-rak perpustakaan umum di kota itu. Banyak karya, meliputi hampir semua penulis sastra terkenal, yang dipersembahkan secara khusus untuk menunjukkan betapa besar pengaruh Alkitab terhadap mereka.”

Sejarawan Philip Schaff (The Person of Christ, American Tract Society, 1913) melukiskan dengan jelas keunikan Alkitab bersama dengan Juruselamat-nya: Yesus dari Nazaret ini, tanpa uang dan senjata, menaklukkan jutaan orang lebih banyak dibandingkan Iskandar Agung, Kaisar, Muhammad, dan Napoleon; tanpa ilmu pengetahuan dan pendidikan, Ia memberikan pengertian tentang banyak hal baik yang manusiawi maupun yang ilahi jika dibandingkan dengan usaha bersama semua filsuf dan cendekiawan; tanpa kefasihan yang diperoleh dari pelbagai sekolah, Ia mengungkapkan kata-kata kehidupan yang tiada taranya, baik sebelum ataupun sesudahnya, dan memberikan dampak di luar jangkauan orator atau pujangga; tanpa menuliskan sebuah kalimatpun, Ia menggerakkan lebih banyak pena untuk berkarya, dan menyediakan tema demi terciptanya lebih banyak khotbah, orasi,diskusi, berjilid-jilid buku berhikmat, karya seni, dan lagu-lagu pujian jika dibandingkan dengan seluruh tokoh besar baik dari zaman kuno maupun zaman moderen.”

Bernard Ramm menambahkan: “Ada demikian banyak hal yang sangat rumit dalam penelitian biografis yang tidak tertandingi dalam cabang ilmu atau bagian lain dari pengetahuan manusiawi. Dari Bapak-bapak Gereja zaman Rasul-rasul dari tahun 95 M. sampai dengan zaman moderen terbentuklah aliran sastera agung yang diinspirasi oleh Alkitab – kamus-kamus Alkitab, ensiklopedi Alkitab, leksikon Alkitab, atlas Alkitab, dan geografi Alkitab. Ini semua mungkin diterima sebagai suatu penggerak. Lalu secara acak, kita dapat menyebutkan bibliografi yang demikian besar jumlahnya, yang berhubungan dengan teologi, pendidikan agama, ilmu tentang puji-pujian,misi, bahasa alkitabiah, sejarah gereja, biografi religi, karya-karya ibadah, tafsiran, filsafat agama, bukti-bukti, apologetika, dan sebagainya. Nampaknya tak akan habis-habis jumlahnya.”

Kenneth Scott Latourette, mantan sejarawan Yale, berkata: “Inilah bukti keunggulan-Nya, tentang pengaruh yang dihasilkan-Nya atas sejarah dan agaknya, tentang rahasia yang membingungkan mengenai keberadaan-Nya karena tidak ada seorang lainpun yang pernah hidup di planet ini telah menyebabkan dihasilkannya literatur yang demikian banyak di antara demikian banyak bangsa dan bahasa, dan bahwa, tanpa pernah surut sedikitpun, samudera literatur itu terus meluap.”

Kesimpulan yang Jelas

Hal-hal di atas tidak membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, namun bagiku hal-hal itu membuktikan bahwa Alkitab itu unik (“berbeda dari kitab-kitab yang lain; tidak ada yang sama atau setara”).

Seorang dosen memberikan komentarnya kepada saya: “Jika Anda adalah seorang cendekiawan, Anda akan membaca sebuah kitab yang telah menarik lebih banyak perhatian dibandingkan kitab-kitab lain, jika Anda sedang berupaya untuk mencari kebenaran.”

CATATAN:
Alkitab adalah kitab agamawi pertama yang dibawa ke angkasa luar (dalam bentuk film mikro). Alkitab adalah kitab pertama yang dibaca yang menguraikan tentang asal mula bumi (para antariksawan membaca kitab Kejadian 1:1 – “Pada mulanya Allah . . .”). Pikirkan, Voltaire mengatakan bahwa Alkitab akan hilang dari peredarannya pada tahun 1850.
Alkitab adalah juga salah satu dari antara kitab-kitab termahal (jika bukan yang termahal). Alkitab Vulgata Berbahasa Latin dari Gutenberg terjual mencapai lebih dari $100,000. Orang-orang Rusia menjual Kodeks Sinaitikus (Alkitab dalam salah satu bentuk awalnya) ke Negara Inggris seharga $510,000.

Dan pada akhirnya, telegram terpanjang yang dikenal dunia adalah Alkitab Perjanjian Baru Revised Version (Versi yang Diperbaiki), dikirim dari New York ke Chicago.

II. Bagaimana Alkitab Dipersiapkan?

6 : Penyiapan Alkitab

Banyak orang telah mempertanyakan latar belakang Alkitab, pembagiannya dan materi yang dipakai untuk menghasilkannya. Bagian ini akan menolong Saudara untuk memahami penyusunan, dan saya rasa, akan memberikan kesadaran kepada para pembaca untuk memberikan penghargaan lebih besar kepada Firman Allah.

Bahan Tulis yang Dipakai dalam Penyiapan Kitab Suci

Papirus . Karena tidak dapat menyelamatkan banyak naskah kuno (yang dimaksudkan dengan naskah adalah lembaran Kitab Suci yang ditulis dengan tangan) pada dasarnya disebabkan oleh karena bahan yang dipakai menulis itu mudah rusak.

“Semua . . . tulisan tangan,” demikian tulisan F.F. Bruce, “telah lama hilang. Tidak mungkin terjadi yang sebaliknya, jika naskah-naskah itu ditulis pada papirus, karena (sebagaimana yang telah kita pahami) bahwa hanya dalam keadaan-keadaan yang sangat khusus papirus dapat bertahan cukup lama.”

Kirsopp Lake menyatakan “sulit untuk menyangkali kesimpulan yang mengatakan bahwa para penulis biasanya menghancurkan lembaran-lembaran contoh mereka ketika mereka menyalin Kitab-kitab Suci.”

Bahan tulis kuno yang lazim dipakai adalah papirus, yang dibuat dari tanaman papirus. Rumput buluh halus ini banyak tumbuh di danau-danau yang dangkal dan sungai-sungai yang ada di kawasan Mesir dan Syria. Papirus ini dikirim dengan kapal laut dalam jumlah besar melalui pelabuhan Syria bernama Bublos. Diduga bahwa kata Yunani untuk buku (biblos) dibentuk dari nama pelabuhan ini. Kata “paper” dalam bahasa Inggris berasal dari kata Yunani papyrus.

The Cambridge History of the Bible memberikan catatan tentang bagaimana papirus dipersiapkan untuk menjadi bahan tulis: “Rumput buluh halus itu dicabut dan dibelah memanjang sehingga menjadi lembaran pipih sebelum dipukuli dan ditekan bersama untuk menjadi dua lapisan yang berposisi tegak lurus satu terhadap lainnya. Pada waktu sudah kering permukaannya yang keputih-putihan digosok dengan batu halus atau alat lain sejenisnya. Pliny menunjuk pada beberapa kualitas papirus, dan ditemukan bahwa ada variasi yang berhubungan dengan tebalnya maupun kualitas permukaannya sebelum zaman Kerajaan Baru (sejarah Mesir kuno tahun 1580-1058 S.M.) ketika lembaran-lembaran yang ada seringkali sangat tipis dan agak tembus cahaya.”

Serpihan papirus tertua yang dikenal manusia diperkirakan berasal dari tahun 2400 S.M. Naskah-naskah paling awal tertulis di atas papirus, dan sulit untuk bertahan kecuali tersimpan di tempat kering seperti gurun pasir Mesir atau di gua-gua seperti Gua Qumran tempat ditemukannya Gulungan Laut Mati. Papirus dipakai secara populer sampai dengan kira-kira abad ketiga Masehi.

Perkamen . Nama ini diberikan pada “kulit domba, kambing, antilup dan binatang-binatang lain yang disamak.” Kulit ini “dicukur dan dikerok” agar dihasilkan bahan tulis yang lebih tahan lama.

F. F. Bruce menulis bahwa “kata ‘perkamen’ berasal dari nama kota Pergamum, di Asia Kecil, karena produksi bahan tulis ini pada suatu saat secara khusus dikaitkan dengan tempat tersebut.”

Vellum . Nama ini diberikan pada kulit anak sapi. Seringkali vellum ini dicelup pada bahan warna ungu. Beberapa di antara naskah yang kita miliki saat ini ada dalam bentuk vellum ungu. Tulisan pada vellum berwarna ini biasanya dibuat dari prada emas atau prada perak.

J. Harold Greenlee mengatakan bahwa gulungan kitab tertua yang dibuat dari kulit berasal dari sekitar tahun 1500 S.M.

Ostraka . Ini adalah bahan tembikar kasar yang pada umumnya dipakai oleh rakyat kecil. Istilah teknisnya adalah “serpihan tembikar” dan ditemukan dalam jumlah sangat besar di Mesir dan Palestina (Ayub 2:8).

Pen besi . Alat ini dipakai untuk mengukirkan tulisan pada batu.

Lempengan Tanah Liat dipahat dengan alat tulis tajam lalu dijemur untuk menghasilkan catatan tetap (Yeremia 17:13; Yehezkiel 4:1). Ini adalah yang termurah dan merupakan salah satu dari bahan tulis yang paling tahan lama.

Kayu Berlapis Lilin . Alat tulis dari besi tajam dipakai untuk mengukirkan tulisan pada papan kayu yang dilapisi dengan lilin.

Alat Tulis yang Dipakai dalam Penyiapan Kitab Suci

Pahat . Alat dari besi dengan ujung pipih untuk mengikis atau melubangi batu.

Alat Tulis (Stilus) Besi . “Alat bersisi tiga dengan ujung rata, stilus ini dipakai untuk membuat kesan pada lempengan tanah liat atau lempengan kayu berlapis lilin.”

Pen . Gelagah runcing “dibuat dari batang tanaman air (Juncus maritimis) sepanjang 6-16 inci, ujungnya dipotong rata dan pipih berbentuk pahat untuk menghasilkan goresan tebal dan tipis dengan menggunakan sisi lebar dan sisi tipisnya. Pena buluh ini dipakai dari awal milenium pertama di Mesopotamia tempat alat itu telah dipinjam, sementara gagasan tentang pena bulu berasal dari orang-orang Yunani pada abad ketiga S.M.” (Yeremia 8:8). Pena ini dipakai untuk menulis pada vellum, perkamen dan papirus.

Tinta biasanya adalah campuran antara “arang, getah dan air.”

Bentuk-bentuk Kuno Kitab Suci

Gulungan kitab

Gulungan kitab dibuat dengan cara merekat lempengan-lempengan papirus, lalu menggulung rangkaian lempengan ini pada sebuah batang penggulung dari kayu. Ukuran gulungan kitab ini terbatas karena kesulitan dalam penggunaan gulungan kitab itu. Tulisan biasanya hanya ditemukan pada salah satu sisi saja. Gulungan kitab yang bertulisan pada kedua sisinya disebut “Opisthograph” (Wahyu 5:1). Beberapa gulungan kitab berukuran panjang 144 kaki. Panjang rata-rata gulungan kitab adalah 20 sampai dengan 35 kaki. Tidak mengherankan bahwa Callimachus, ahli katalog profesional buku-buku pada perpustakaan Iskandaryah, berkata “buku yang besar sama dengan kesulitan besar.”

Kodeks atau Bentuk kitab

Untuk mempermudah dalam membaca dan memperkecil ukuran bahan bacaan, lempengan-lempengan papirus itu disusun dalam bentuk lembaran serta ditulisi pada kedua sisinya. Greenlee mengatakan bahwa Kekristenan telah menjadi alasan utama dalam perkembangan bahan bacaan ke dalam bentuk kodeks atau kitab itu. Penulis-penulis klasik menggoreskan pena mereka di atas gulungan papirus sampai sekitar abad ketiga Masehi.

Jenis-jenis Tulisan

Tulisan Uncial menggunakan huruf-huruf besar yang ditulis dengan pertimbangan yang dalam dan sangat berhati-hati. Tulisan ini dikenal sebagai “tulisan buku.” Vaticanus dan Sinaiticus adalah naskah dengan tulisan uncial.

Tulisan Minuscule (baca: minaskyul) adalah “tulisan dengan huruf-huruf kecil yang dirangkai satu dengan yang lain . . . diciptakan untuk menghasilkan buku.” Perubahan ini dimulai pada abad kesembilan Masehi.

Naskah-naskah Yunani ditulis tanpa ada jarak di antara satu kata dengan kata berikutnya. (Ibrani ditulis tanpa huruf hidup sampai dengan tahun 900 M. dengan hadirnya naskah-naskah Massoretis).

Bruce Metzger menjawab orang-orang yang berbicara tentang kesulitan yang ditimbulkan oleh teks yang tidak berjarak: “Tetapi, tidak harus dipikirkan bahwa hal-hal kabur seperti itu terjadi seringkali dalam bahasa Yunani. Dalam bahasa itu, memang itulah peraturannya, dengan sangat sedikit perkecualian, bahwa kata-kata Yunani asli dapat berakhir hanya dengan sebuah vokal (atau dengan diftong, vokal rangkap) atau di dalam salah satu dari ketiga huruf mati berikut ini: v, p, dan s (Nu, Rho dan Sigma). Selanjutnya, tidak seharusnya diduga bahwa scriptio continua menyebabkan kesulitan-kesulitan khusus dalam membaca, karena nampaknya telah menjadi kebiasaan zaman kuno bahwa orang membaca dengan suara nyaring, bahkan ketika si pembaca sedang seorang diri. Dengan demikian, walaupun tidak ditemukan jarak di antara kata-kata yang tertulis itu, dengan mengucapkan apa yang sedang dibacanya sendiri, suku kata demi suku kata, seseorang segera terbiasa untuk membaca scriptio continua.”

Pembagian Kitab Suci

Kitab-kitab
Berikut ini adalah susunan Perjanjian Lama berdasarkan pengkanonan Yahudi.

Hukum – (Torah)
1. Kejadian
2. Keluaran
3. Imamat
4. Bilangan
5. Ulangan

Para Nabi (Neviim)
Nabi-nabi Terdahulu
1. Yosua
2. Hakim-hakim
3. Samuel
4. Raja-raja

Nabi-nabi Kemudian
1. Yesaya
2. Yeremia
3. Yehezkiel
4. Dua Belas Nabi

Sastera – (Ketuvim [ Ibr.] atau Hagiografa [Yunani] )
A. Kitab Puisi
1. Mazmur
2. Amsal
3. Ayub

Lima Gulungan Kitab (Megilloth)
1. Kidung Agung
2. Rut
3. Ratapan
4. Ester
5. Pengkhotbah

Kitab-kitab Sejarah
1. Daniel
2. Ezra-Nehemia
3. Tawarikh

Pasal-pasal

Pembagian dilakukan pertama kali pada tahun 586 S.M. ketika Pentateukh dibagi ke dalam 154 kelompok (sedarim). Lima puluh tahun kemudian pembagian itu disederhanakan ke dalam 54 seksi (parashiyyoth) dan ke dalam 669 segmen lebih kecil lagi untuk mempermudah pencarian referensi. Ini dipergunakan dalam siklus pembacaan Alkitab dalam satu tahun.

Orang-orang Yunani membuat pembagian pada sekitar tahun 250 M. Sistem pembagian menurut pasal yang tertua berawal pada tahun 350 M. tercantum pada margin Kodeks Vaticanus. Geisler dan Nix menulis bahwa “baru pada abad ke-13 pembagian ke dalam seksi ini diubah . . . Stephen Langton, dosen Universitas Paris, yang kemudian menjadi Bisop Agung Canterbury, membagi Alkitab ke dalam pasal-pasal yang dipakai sampai zaman moderen ini.”

Ayat-ayat

Pada mulanya penunjuk-penunjuk ayat bervariasi dari jarak antar kata sampai dengan huruf atau angka. Penunjuk-penunjuk ayat itu secara universal tidak dipakai secara sistematik. Pembagian Alkitab berdasarkan ayat pertama-tama dibakukan sekitar tahun 900 M.

Vulgata dalam bahasa Latin adalah Alkitab pertama yang menggunakan pembagian ayat dan pasal, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.

III. Kanon

7 : Kanon Perjanjian Lama

Arti Kata Kanon

Kata kanon berasal dari akar kata “gelagah” (dalam bahasa Inggris cane; dalam bahasa Ibrani ganeh dan dalam bahasa Yunani kanon). “Gelagah” itu dipakai sebagai alat pengukur panjang dan pada akhirnya berarti “standar.”

Origen menggunakan kata “kanon untuk menyatakan apa yang kita sebut ‘hukum iman,’ patokan yang harus kita pakai untuk mengukur dan mengevaluasi . . .” Kemudian kata itu diartikan dengan “daftar” atau “indeks.” Kata “kanon” jika dipakai dalam hubungan dengan Kitab Suci berarti “daftar buku yang diterima secara resmi.”

Hal yang perlu diingat adalah bahwa gereja tidak menciptakan kanon atau buku-buku yang dimasukkan dalam sebuah buku yang kita sebut Kitab Suci. Sebaliknya, gereja mengakui bahwa buku-buku itu diwahyukan sejak semula. Kitab-kitab itu diwahyukan Allah pada saat kitab-kitab itu ditulis.
Kelayakan Buku Untuk Dikanonkan
Kita tidak dapat mengetahui dengan pasti kriteria apa yang dipakai oleh gereja pada tahap awal untuk memilih kitab-kitab kanonik. Mungkin ada lima prinsip yang dipakai sebagai penuntun dalam menetapkan apakah sebuah kitab Perjanjian Baru bersifat kanonik atau bernilai sebagai Kitab Suci. Geisler dan Nix mencatat kelima prinsip ini:

Kitab itu harus berotoritas – apakah berasal dari tangan Allah? (Apakah kitab ini hadir dengan ungkapan “demikianlah Firman Allah” yang bersifat ilahi?)

Apakah berasal dari para nabi? – apakah ditulis oleh manusia utusan Allah?

Apakah kitab itu otentik? (Bapa-bapa Gereja berprinsip “jika meragukan, buang saja.” Hal ini menambah “keabsahan ketajaman mereka di dalam memandang kitab-kitab kanonik.”)

Apakah kitab itu dinamik? – apakah kitab itu disertai oleh kuasa Allah yang mampu mengubah kehidupan manusia?

Apakah kitab itu diterima, dikumpulkan, dibaca dan dipergunakan? – apakah kitab itu diterima oleh umat Allah? Petrus mengakui karya Paulus sebagai Kitab Suci, setara dengan Kitab Suci Perjanjian Lama (II Petrus 3:16).

KANON PERJANJIAN LAMA

Faktor-faktor Penentu Kebutuhan Pengkanonan Perjanjian Lama

Sistem pengorbanan Yahudi berakhir dengan penghancuran Yerusalem dan Bait Allah pada tahun 70 M. Walaupun kanon Perjanjian Lama terpatri dalam benak orang-orang Yahudi jauh sebelum tahun 70 M., dirasakan adanya kebutuhan akan sesuatu yang lebih pasti. Orang-orang Yahudi tercerai-berai dan mereka perlu memastikan buku mana sajakah yang sebenarnya Firman Allah yang berkuasa. Hal ini disebabkan oleh beredarnya demikian banyak tulisan tambahan terhadap kitab suci serta desentralisasi yang terjadi. Orang-orang Yahudi menjadi suatu bangsa yang berpegang pada sebuah Kitab dan Buku itulah yang mempersatukan mereka.

Kekristenan mulai berkembang dan banyak tulisan orang Kristen mulai beredar. Orang-orang Yahudi perlu menyatakannya dengan tegas serta membuangnya dari antara tulisan-tulisan mereka dan dari pemakaian di sunagoge. Seseorang perlu demikian berhati-hati sehingga ia harus memisahkan kanon Kitab Suci Ibrani dari antara kumpulan literatur agamawi.

Kanon Ibrani

Berikut ini adalah susunan Perjanjian Lama berdasarkan pengkanonan Yahudi (diambil dari catatan ketika saya di seminari, namun dapat ditemukan dalam banyak buku seperti terbitan moderen Perjanjian Lama Yahudi. Periksalah juga The Holy Scriptures, berdasarkan Teks Massoretis dan Biblia Hebraica, Rudolph Kittel, Paul Kahle [penyunting]).

Hukum – (Torah)
1. Kejadian
2. Keluaran
3. Imamat
4. Bilangan
5. Ulangan

Para Nabi (Neviim)
Nabi-nabi Terdahulu
1. Yosua
2. Hakim-hakim
3. Samuel
4. Raja-raja

Nabi-nabi Kemudian
1. Yesaya
2. Yeremia
3. Yehezkiel
4. Dua Belas Nabi

Sastera – (Ketuvim [Ibr.] atau Hagiografa [Yunani])
Kitab Puisi
1. Mazmur
2. Amsal
3. Ayub

Lima Gulungan Kitab (Megilloth)
1. Kidung Agung
2. Rut
3. Ratapan
4. Ester
5. Pengkhotbah

Kitab-kitab Sejarah
1. Daniel
2. Ezra-Nehemia
3. Tawarikh

Walaupun gereja Kristen memiliki kanon Perjanjian Lama yang sama, jumlah kitab yang ada di dalamnya berbeda karena kita membagi Samuel, Raja-raja, Tawarikh, dsb. masing-masing ke dalam dua buah kitab; orang-orang Yahudi juga memandang Nabi-nabi Kecil itu hanya sebagai sebuah kitab.

Urutan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama pun berbeda. Perjanjian Lama yang dipakai oleh gereja Protestan disusun berdasarkan topik, bukan urutan resminya.

Kesaksian Kristus Tentang Perjanjian Lama

Lukas 24:44. Di ruang atas Yesus memberitahu murid-murid-Nya “bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Dengan kata-kata-Nya itu “Ia menunjukkan ketiga bagian yang dipakai untuk mengelompokkan Kitab Suci Ibrani – Taurat, kitab Para Nabi, dan kitab ‘Sastera’ (pada bagian ini yang disebut adalah kitab Mazmur mungkin karena kitab Mazmur adalah kitab pertama dan yang terpanjang dalam bagian ketiga ini).”

Yohanes 10:31-36; Lukas 24:44. Yesus tidak sependapat dengan tradisi lisan orang-orang Farisi (Markus 7; Matius 15), bukan tidak menyetujui konsep mereka tentang kanon Ibrani. “Tidak ditemukan bukti tentang adanya perdebatan di antara Dia dengan orang-orang Yahudi dalam hubungan dengan pengkanonan kitab Perjanjian Lama yang manapun.”

Lukas 11:51 (juga Matius 25:35): “mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia . . .” Pada bagian ini Yesus menegaskan kesaksian-Nya sampai pada batas kanon Perjanjian Lama. Habel, sebagaimana yang diketahui setiap orang, adalah orang pertama yang mati syahid (Kejadian 4:8). Zakharia adalah orang terakhir yang disebutkan sebagai syuhada (dalam susunan Perjanjian Lama Ibrani. Perhatikan daftar di atas – butir 2.), sesudah dirajam dengan batu sementara bernubuat di hadapan orang banyak “di pelataran rumah TUHAN” (II Tawarikh 24:21). Kejadian adalah kitab pertama dalam kanon Ibrani dan Tawarikh adalah buku terakhir. Yesus pada dasarnya berkata “dari Kejadian sampai dengan Tawarikh,” atau, berdasarkan susunan Alkitab kita, “dari Kejadian sampai dengan Maleakhi.”

Kesaksian Tambahan Penulis Alkitab

Catatan tertua tentang pembagian Perjanjian Lama ke dalam tiga kelompok ini ditemukan dalam pengantar kitab Pengkhotbah (130 S.M.). Pengantar yang ditulis oleh cucu sang penulis itu berbunyi sebagai berikut: “Taurat, dan Para Nabidan kitab-kitab lain leluhur kita.” Dalam pengantar itu ditemukan tiga pengelompokan Kitab Suci secara pasti.

Josephus, sejarawan Yahudi, (akhir abad pertama Masehi) menulis: “. . . dan betapa kokoh penghargaan yang telah kita berikan kepada kitab-kitab milik bangsa kita sendiri itu terbukti dari apa yang kita lakukan; karena selama berabad-abad yang telah berlalu, tidak ada seorangpun yang demikian berani untuk menambahkan sesuatu kepada kitab-kitab tersebut atau mengurangi sesuatu daripadanya, atau mengadakan perubahan atasnya; namun wajar bagi semua orang Yahudi, dengan segera dan sejak hari kelahiran mereka, memandang kitab-kitab tersebut sebagai kitab yang berisi ajaran ilahi, dan bertekun untuk melaksanakannya, dan, kalau keadaan menghendaki, bersedia untuk mati demi kitab-kitab itu. Karena tidak menjadi hal baru bagi orang-orang kami yang menjadi tawanan, mereka berjumlah besar, dan sering kali pada akhirnya, terlihat sebagai orang-orang yang berusaha bertahan untuk menanggung segala jenis siksaan dan kematian di arena, bahwa mereka sendiri tidak diizinkan untuk terpaksa mengucapkan sebuah kata yang bertentangan dengan hukum kami, serta catatan-catatan yang memuatnya. . . .”

Talmud

Tosefta Yadaim 3:5 berbunyi: “Injil dan kitab-kitab yang dimiliki para bidat tidak membuat tangan kotor; kitab-kitab Ben Sira dan kitab-kitab apapun yang telah ditulis sejak masa hidupnya tidak merupakan kitab yang layak dikanonkan.”

Seder Olam Rabba 30 berbunyi: “Sampai saat ini [masa Iskandar Agung] para nabi bernubuat melalui Roh Kudus; dari sejak sekarang dan seterusnya, sendengkanlah telingamu dan dengarkanlah kata-kata orang bijak.”

Talmud Babilonia, Traktat “Sanhedrin” VII-VIII, 24: “Sesudah zaman nabi-nabi yang terakhir seperti Hagai, Zakharia, dan Maleakhi, Roh Kudus meninggalkan Israel.”

Melito, Bisop di Sardis, menyusun daftar tertua kanon Perjanjian Lama yang dapat kita ketahui tahun penulisannya (170 M.)

Eusebius (Ecclesiastical History IV.26) menyimpan komentar-komentar yang pernah diberikannya.

Melito mengatakan bahwa ia telah memperoleh daftar yang dapat dipercaya itu ketika ia sedang ada dalam perjalanan di Suriah. Komentar-komentar Melito dituliskan dalam suratnya kepada Anesimius, seorang temannya: “Nama-nama kitab itu adalah sebagai berikut . . . Lima Kitab Musa: Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat, Ulangan. Yesus Naue, Hakim-hakim, Ruth. Empat buah kitab Kerajaan, dua kitab Tawarikh, Mazmur Daud, Amsal Salomo (juga disebut kitab Hikmat), Pengkhotbah, Kidung Agung, Ayub. Tentang kitab Para Nabi: Yesaya, Yeremia, Dua Belas Nabi dalam sebuah kitab, Daniel, Yehezkiel, Ezra.”

F. F. Bruce memberikan komentarnya: “Nampaknya Melito menyatukan Ratapan dengan Yeremia, dan Nehemia dengan Ezra (walaupun tentu menimbulkan pertanyaan apabila kita temukan bahwa ia menghitung Ezra di antara para nabi). Dalam hal itu, daftarnya memuat semua kitab yang ada di dalam kanon Ibrani (yang disusun menurut susunan Septuaginta), dengan perkecualian kitab Ester. Ester mungkin tidak dimasukkan di dalam daftar yang diterimanya dari orang-orang yang menjadi sumber informasi di Suriah.”

Pembagian ke dalam tiga kumpulan teks Yahudi yang ada saat ini (dengan 11 kitab dalam kitab Sastera) berasal dari Mishnah (traktat Baba Bathra, abad ke-5 M.)

8 : Kanon Perjanjian Baru

Kelayakan Buku Untuk Dikanonkan dalam Perjanjian Baru

Faktor dasar untuk menetapkan sifat kanonik Perjanjian Baru adalah pewahyuan oleh Allah, dan ujian utamanya, kerasuliannya.

Geisler dan Nix menjelaskan lebih lanjut hal tersebut:
“Di dalam istilah Perjanjian Baru, gereja ‘dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi’ (Efesus 2:20) yang berdasarkan janji-Nya, akan Kristus pimpin ke dalam ‘seluruh kebenaran’ (Yohanes 16:13) melalui Roh Kudus. Dikatakan bahwa gereja di Yerusalem tetap bertekun ‘dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan’ (KPR 2:42). Istilah ‘rasuli’ pada saat dipakai untuk menguji kekanonan tidak perlu diartikan ‘ditulis oleh rasul,’ atau ‘yang dipersiapkan di bawah arahan para rasul. . . .’

“Nampaknya lebih baik apabila kita menyetujui pandangan Gaussen, Warfield, Charles Hodge, dan sebagian besar kaum Protestan bahwa yang menjadi ujian primer atas kekanonan adalah otoritas rasuli, atau persetujuan dari para rasul, bukan semata-mata dikarang oleh para rasul.”

N. B. Stonehouse menulis bahwa otoritas rasuli “yang berbicara lantang dalam Perjanjian Baru tidak pernah terpisah dari otoritas Tuhan. Di dalam surat-surat kiriman ada pengakuan yang tetap bahwa di dalam gereja hanya ada satu otoritas absolut, otoritas Tuhan sendiri. Di manapun para rasul berbicara dengan otoritas, mereka bertindak demikian sebagai perwujudan pendayagunaan otoritas Tuhan. Jadi, misalnya, ketika Paulus mempertahankan otoritasnya sebagai seorang rasul, ia mendasarkan pernyataannya semata-mata dan secara langsung pada amanat yang diberikan Tuhan kepadanya (Galatia 1 dan 2); ketika ia menyandang wewenang untuk mengatur gereja, ia memohon otoritas Tuhan bagi kata-katanya, bahkan ketika tidak ada firman Tuhan yang secara langsung telah disampaikan (I Korintus 14:37; bd. I Korintus 7:10). . . .”

Buku-buku Kanonik Perjanjian Baru

Mengapa perlu menetapkan pengkanonan Perjanjian Baru? Tiga buah alasan:
Seorang penyesat, Marcion (140 M.), menetapkan kanonnya sendiri dan mulai menyebarluaskannya. Gereja perlu menangkal pengaruhnya dengan jalan menetapkan yang manakah kanon Perjanjian Baru yang sebenarnya.

Banyak gereja Timur menggunakan buku-buku dalam kebaktian mereka, dan buku-buku itu palsu. Hal itu memerlukan keputusan untuk menetapkan kanon.

Undang-undang Diocletian (303 M.) mencanangkan penghancuran kitab-kitab suci milik orang Kristen. Siapakah yang rela mati hanya untuk sebuah kitab agamawi? Mereka perlu tahu!

Athanasius dari Aleksandria (367 M.) memberikan kepada kita daftar tertua kitab-kitab Perjanjian Baru yang sama dengan daftar Perjanjian Baru kita saat ini. Daftar tersebut dicantumkannya dalam surat pesta yang ditujukan kepada gereja-gereja.

Tidak lama sesudah Athanasius, dua orang penulis, Jerome dan Agustinus, mendefinisikan pengkanonan ke-27 kitab itu.

Polikarpus (115 M.), Clement dan orang-orang lain mengacu kepada kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan ungkapan “sebagaimana dikatakan dalam kitab-kitab suci ini.”

Justin Martyr (100-165 M.), mengacu kepada Perjamuan Kudus, menulis di dalam kitabnya berjudul First Apology 1.67: “Dan pada hari yang disebut Minggu ada perkumpulan di suatu tempat dari semua orang yang tinggal di kota-kota dan di pedesaan, dan riwayat para rasul atau tulisan para nabi dibacakan, sesuai dengan waktu yang tersedia. Lalu ketika sang pembaca selesai membacakannya, pemimpinnya memberikan nasihat dan undangan untuk mengikuti hal-hal baik ini.” Ia menambahkan dalam Dialoguenya dengan Trypho (h. 49, 103, 105, 107) ungkapan “Ada tersurat,” untuk mengutip dari Injil. Baik dia maupun Trypho seharusnya telah mengetahui ungkapan “Ada tersurat” itu menunjuk kepada apa.

Irenaeus (180 M.)

F. F. Bruce menulis tentang pentingnya Irenaeus: “Pentingnya bukti terletak pada hubungannya dengan zaman rasul-rasul dan di dalam hubungan-hubungan oikoumenisnya. Ia dibesarkan di Asia Kecil di bawah kaki Polikarpus, murid Yohanes, ia menjadi bisop di Lyons di Gaul, pada tahun 180 M. Tulisannya memberikan pengesahan pada pengakuan kanonik atas keempat Injil dan Kisah Para Rasul, atas surat Roma, I dan II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, I dan II Timotius, dan Titus, atas I Petrus dan I Yohanes dan atas surat Wahyu. Di dalam perjanjiannya, Against Heresies, III,ii,8, terlihat jelas bahwa pada tahun 180 M. gagasan tentang Injil empat sekawan itu telah menjadi demikian jelas di seluruh lingkungan Kekristenan sehingga dapat diacu sebagai fakta yang sudah kokoh, yang demikian jelas dan tidak dapat dihindari dan demikian wajar sebagaimana keempat mata angin pada kompas (sesuai dengan namanya) atau keempat penjuru angin.”

Ignatius (50-115 M.): “Saya tidak berharap untuk memberikan perintah kepada Sau-dara seperti yang dilakukan Petrus dan Paulus; mereka adalah rasul. . . .” Trall.3.3.

Konsili Gereja. Keadaannya sama dengan Perjanjian Lama (bd. B,6, Konsili Jamnia). F. F. Bruce menyatakan bahwa “ketika pada akhirnya Konsili Gereja – Sinode Hippo pada tahun 393 M. – menetapkan daftar kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru, sinode itu tidak memberikan kepada konsili itu otoritas yang tidak mereka miliki, namun hanya mencatat pengkanonan yang sudah ada dan sudah mapan. (Ketetapan Sinode Hippo ini diumumkan kembali empat tahun kemudian oleh Sinode Ketiga di Kartago.)” Sejak saat itu, tidak pernah ada keraguan yang serius tentang ke-27 kitab Perjanjian Baru yang telah diterima baik oleh kalangan Katolik Roma maupun kalangan Protestan.

Apokrifa Perjanjian Baru

Surat Kiriman Pseudo-Barnabas (70-79 M.)
Surat Kiriman kepada Orang-orang Korintus (96 M.)
Homili Kuno, juga disebut Surat Kedua Klemen (120-140 M.)
Gembala Hermas (115-140 M.)
Didakhe, Pengajaran Dua Belas Rasul (100-120 M.)
Wahyu Petrus (150 M.)
Kisah Paulus dan Thekla (170 M.)
Surat kepada Jemaat Laodikea (abad ke-4?)
Injil menurut Orang Ibrani (65-100 M.)
Surat Polikarpus kepada Orang-orang Filipi (108 M.)
Tujuh Surat Kiriman Ignatius (100 M.)

Dan masih banyak lagi lainnya.

Dari Artikel diatas kita dapat melihat keistimewaan dan ke unikan dari Alkitab yaitu :

Yang pertama, Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 orang penulis yang berbeda. Penulis-penuilis ini berasal dari latar belakang yang bermacam-macam, ditulis dalam periode kira-kira 1500, dan Penulis-penulis kitab itu telah menulis ditempat-tempat yang berbeda, dengan pendidikan dan kebudayaan yang sangat berbeda ,Tulisan-tulisan alkitabiah itu disusun di tiga benua yang berbeda, dan dalam tiga bahasa yang berbeda, Isi Alkitab menguraikan banyak persoalan yang controversial.
Namun demikian, Alkitab tetaplah merupakan satu kesatuan. Dan ini merupakan salah satu keistimewaan dan keunikan Alkitab dibandingkan kitab2 lainnya.

Jika Alkitab ditulis oleh satu orang Penulis dan di tulis dalam satu generasi , satu bahasa, satu kebudayaan, satu tempat, dll. Maka Alkitab tidak unik lagi walaupun Isi di dalamnya selaras, karena jika anda pergi ke Toko-Toko Buku, maka anda juga akan mendapatkan ribuan buku yang ditulis oleh satu penulis, satu bahasa, satu kebudayaan, satu tempat, dll, Serta isi di dalam buku tsb selaras, karena memang satu orang penulis (sudah tentu selaras, hanya satu pikirian seseorang yang dituangkan ke dalam suatu buku), sehingga buku-buku yang ditulis oleh satu orang penulis, mayoritas isi di dalam buku tersebut akan tampak selaras dan tidak bertentangan dsbnya. Dan hal ini bukan sesuatu yang istimewa, unik dan dapat dibanggakan karena ada ribuan buku yang seperti itu.
Namun beda halnya dengan Alkitab yang merupakan Firman Allah (karena Allah-lah sebagai pengarang Kitab Suci) sehingga walaupun Alkitab ditulis oleh 40 orang yang berbeda latar belakang, tempat, bahasa, dsbnya. Namun menghasilkan isi Kitab yang selaras yaitu Dari awal sampai akhir terbentang hanya satu cerita, yaitu mengenai rencana keselamatan Allah bagi manusia. Dan hal tersebut digenapi di dalam Yesus Kristus yang mati dan bangkit untuk menebus dosa umatNya.

Yang Kedua, Yesus sendiri memberikan kesaksian mengenai Kitab Suci dan
Yesus sendiri memberi kesaksian bahwa Dialah tema seluruh Alkitab.

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal,…….. Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku….. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?”(Yohanes 5:39,46,47).

Di bagian lain tertulis,”Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi”(Lukas 24:27 ; lihat juga Lukas 24:44).

Dari ayat2 diatas Yesus mengkonfirmasi bahwa Kitab2 yang ditulis oleh Musa dan Nabi-nabi menubuatkan tentang Yesus bukan orang lain. Jadi jika ada seseorang yang mengklaim bahwa Inti dari Kitab2 yang ditulis oleh Musa dan Nabi-nabi bukan menubuatkan tentang Yesus Kristus melainkan seseorang yang lain, maka orang tersebut sudah salah Tafsir, seperti yang telah dikatakan oleh Yesus sendiri di (Yohanes 5:39,46,47)

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal,……..

Banyak orang yang menyelidiki Kitab-kitab Suci dan menyangka mereka memperoleh hidup yang kekal spt yg dikatakan pada ayat diatas.namun sebenarnya mereka sama sekali tidak memahami Kitab Suci(karena mereka menggunakan logika dan nalar dengan kekuatannya sendiri dan bukan atas pencerahan dari Roh Kudus), karena Kitab Suci memberikan kesaksian tentang Tuhan Yesus namun mereka menolaknya, spt yang dinyatakan pada ayat dibawah ini,

“Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku…. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?”

Dan sekarang banyak orang yang meragukan apa yang telah ditulis oleh Musa, sehingga mereka pun tidak dapat percaya kepada apa yang telah Yesus katakan.
Sebagian lagi ada yang percaya kepada Musa , namun mereka tidak dapat mengerti tentang apa yang telah ditulis oleh Musa tentang Yesus. Sehingga mereka tetap menyangkal tentang Yesus yang sebenarnya sudah dinubuatkan oleh Musa dan para Nabi.

Hanya orang-orang yang menerima Yesus sebagai Juruselamat secara pribadi yang dapat mengerti tentang hal-hal rohani yang telah dinubuatkan di dalam Kitab Suci, karena Allah Roh Kudus yang membimbing hati dan pikiran mereka sehingga mereka dapat mengerti.

Mat 13:11
Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak

Mat 11:25-26
25 Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.

1 Korintus 1:18-21
18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
19 Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.”
20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?
21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s